Friday, March 13, 2009

Menggapai Bahagia

melati-bali

”Apa sih ukuran kebahagiaan itu? Apakah kelimpahan materi, istri yang cantik, selalu shalat, atau apa? Aku tak tahu,” kata seorang teman suatu hari.

Bagi aku pertanyaan itu cukup mudah untuk dijawab, sebab jawabanku sederhana. Namun bagi orang lain bisa saja jadi rumit, seperti banyak hal di dunia fana ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang relatif, yang senantiasa harus diusahakan.

”Bagiku kebahagiaan itu adalah berusaha setiap saat merasa nyaman dan damai dengan diriku dan membuat orang-orang yang aku cintai juga begitu.” Sepertinya agak ego, sebab buat orang-orang yang tidak aku cintai aku cenderung cuek...hehe...tapi setelah keluarga dan sahabat-sahabat terdekat, yang aku cintai termasuk orang-orang yang cinta damai, tak merasa ekslusif sendiri.

Beberapa kali ngobrol dengan Uur tentang orang-orang yang kadang menyebalkan, berusaha menimbulkan kesulitan dalam hidup orang lain karena iri dengki, ingin menjatuhkan, bahkan memfitnah, dsb...Aku menjawab, ”Anggaplah saja mereka hanya debu, yang akan luruh jika kau tepiskan.” Dan Uur menyambung, ”Iya Uni, akan bersih dengan wuhduk,”

Insya Allah ya adiak...Si abang juga sering menyuruhku berwudhuk kalau memang lagi butek. Keruh bak sungai di kota-kota besar, biasanya sih kalau PMS :D

Jika ukuran kebahagiaan adalah pemuasan ego dan nafsu, maka kamu tak akan pernah mendapatkannya.

RumahCinta-Ayahanda Medan, 2 Maret 2009

Wednesday, March 04, 2009

Walaupun kesal, berharaplah!

Walaupun kesal, berharaplah!

Bagaimana ya rakyat bisa tersentuh hatinya oleh iklan-iklan partai yang kebanyakan malah ‘mengotori’ pohon-pohon, tiang-tiang listrik, dinding-dinding–apa saja–di kota? Aku terganggu sekali oleh pemandangan itu. Alih-alih jadi tertarik, aku malah sebel ngeliat tampang entah siapa yang dipajang asal-asalan, dimana bisa nempel…Wajah-wajah yang kebanyakan tidak dikenal, tiba-tiba semua ingin jadi pahlawan pembela rakyat & tanah air. Tapi biasanya kalau orang yang ihklas berbuat memang tak butuh dikenal sih ya…Kalau perlu saat tangan kanan melakukan, tangan kiri tak perlu tahu dan sebaliknya, bukan?

Puncak kejengkelanku adalah tadi malam, baru saja pulas, tiba-tiba kaget sekali mendengar orang berteriak-teriak lewat jam 12.00 malam. Langsung aku, abang dan Ufi berlarian mengintip dari ruang tamu. Huh ternyata…pemuda yang nongkrong di salah satu rumah yang disewa partai dekat rumahku, mabuk-mabukan. Sudah beberapa kali aku ngomong ke suami, alih-alih mempesona rakyat, orang-orang itu malah memperburuk citra lembaganya sendiri. Bolehlah disebut oknum, tapi sejak rumah itu ada, aku sebel banget, mereka sering menyetel musik keras-keras seenaknya, menempel gambar-gambar partai ukuran besar di pagarku. Kemarin menempel poster jumbo size seenaknya di pohon mangga sehingga tukang sampah nggak bisa menjangkau sampah yang emang di gantung di situ agar tidak diobok-obok hewan. Sudah beberapa kali dibuka si abang, kemarin mereka tanya kenapa dibuka? Dasar gebleg, emangnya ada aturan mereka boleh seenaknya menempel-nempelin iklannya yang tak indah itu, tanpa izin lagi? Kapuyuak….aku tak tertarik sama sekali! Apalagi kalian membuat lingkungan jadi ribut.

Saat harus memilih sesuatu yang akan menentukan masa depanmu, namun pilihan itu tidak ada yang menyenangkan, haruskah memilih? Bah macam kawin paksa zaman Siti Nurbaya saja!

Satu hal yang selalu kulakukan setidaknya untuk menghibur diri sebagai rakyat negeri ini yang sering kecewa adalah, mengendalikan cara pandang, merubah kalau memang perlu, melihat dari hal-hal positif saja. Ketika misalnya politikus banyak yang bikin eneg, berharaplah bahwa selalu masih ada orang-orang yang jujur disana!

RumahCinta, 1-2 Maret 2009

5 Tanggapan ke “Walaupun kesal, berharaplah!”

Belajar berteman

Belajar berteman

Hah!? haree genee belajar berteman?

Dasar pertemanan bagiku adalah respek, menghargai seseorang sebagai manusia. Tak hanya dalam bercintaan, dalam pertemanan aku butuh chemistry yang memungkinkan bisa ’klik’ dengan seseorang, cewe ataupun cowo. Baru setelah itu kasih sayang hehe…Bukan bermaksud untuk ekslusif, tapi entahlah itu naluri saja sih, bisa saja saat pertama kenal seseorang aku langsung ingin menjauh, atau merasa senang.

Pernah aku menghindari teman sekamar di pelatihan yang benar-benar membuatku tidak nyaman, bicara banyak padahal baru kenal, tahu segalanya, plus lagi merokok di toilet, yang akhire aku usir secara halus agar merokok di teras hotel saja, aku bilang aku asma, padahal asmara hehe..sherly-dwi1

Tapi kalau chemistry-nya ’pas’ aku kadang bisa cuek kok dengan teman yang merokok atau banyak ngomong, aneh ya…

Nah ini salah satu teman baru yang ‘klik’ denganku, sayang Sherly harus kembali ke Manado. Duh Sher, sedih nggak jadi ketemu hari terakhir kamu di Medan. Aku udah nungguin di OIC, tapi kamu malah ngejar-ngejar pesawat! Tapi pizzanya enak lho, thanks hik..hiks…Moga kamu juga senang dengan pertemanan denganku, jangan lupa Camp CRU ya! Mbak Dwi! Kamu juga menyenangkan n funny!

Beberapa kali pernah aku tulis bahwa aku ini orang yang tidak gaul, aku agak gagap berteman jika itu dalam satu suasana baru, misalnya kopdar dengan teman-teman baru yang memang belum pernah aku kenal sebelumnya. Kata orang-orang dekatku sih aku ini sedang-sedang saja, tidak pendiam tidak juga ribut, tapi kata suami, aku bisa jadi pendiam kaya tembok kalau terjebak dalam suatu kerumunan yang tidak aku kenal, dan bisa juga jadi cerewet kalau dengan teman yang memang sudah dekat. Makanya aku mohon maaf banget buat teman-teman blogger Sumut yang suka mengundang kopdar, terutama Mas Said yang baik hati, duh aku jadi nggak enak banget, baru sekali bisa menghadiri. Selain sebagai mamak-mamak sok aktivis (basitungkin di kantor, lapangan dan rumah), aku memang gak gaul, gimana ya, maaf banget aku tak nyaman di tengah orang ramai. Pesta, pasar, livemusic, pokonya yang rame-rame, aku kurang suka.

Pekerjaanku belakangan ini memaksaku untuk belajar berteman, sebab sering sekali harus mengikuti program yang melibatkan orang banyak, harus presentasi, dsb. Aku hanya nyaman kalau harus berinteraksi dengan murid-murid TK/SD dan Guru, selain itu, kalau bisa memilih, aku lebih suka sendiri, atau mojok dengan beberapa orang saja. *Oh ternyata suka mojok* :D Kalau berdua sih maunya hanya dengan kekasih.

Bukan berarti aku gak suka berteman, aku senang kalau ada yang mau kenal, datang ke rumah atau ke kantor, sekedar ngobrol, ketawa, diskusi. Insya Allah aku akan sediakan waktu, sebab Tuhan memberikan waktu yang cukup.

foto729Temanku ini yang sudah kuanggap adik, juga salah seorang yang menginspirasi, membuat nyaman memulai hari, sebab dia sering mengirimiku hadis atau ayat Al-Quran via YM, (yang belum tentu sempat kubaca setiap hari-astagfirullah, ampuni aku Rabb…) sebagai pengingat bahwa masih ada Sang Maha Pencinta yang selalu melihat kita.

foto-feb-09-039Nah ini juga teman baru yang baik hati, paling sering bertemu di program konservasi orangutan. Hihi terakhir ketemu saling ledek: ”Yaaa dia lagi…dia lagi…”

Mas Paijo orang yang membumi, biasa kerja dengan masyarakat desa, suka senyum. Pinda Sianturi, juga tukang ketawa, muka damai deh. Kerjanya jauh di Dairi sono. Sesuai permintaan kelen nih aku pajang senyum damai sejagat! Peace!

Tak sempat tentunya kutulis tentang semua teman kali ini, yang jelas kalian semua baik, yang hanya kukenal online walau belum bertemu, rasanya belum ada yang pernah meninggalkan kata-kata buruk. Yah kalaupun ada nanti, aku anggap saja masukan positif dari sesama manusia. Bagiku internet hanyalah sebuah media, aku menghargai semua teman, silaturrahim, berkasih sayang sesama manusia (cieee :D ).

RumahCinta, Ayahanda Medan—24 February 2009

Notes:

basitungkin: sibuk sampai jungkirbalik (hah?! mungkinkah?) — Bahasa Minangkabau

kelen: kalian (Bahasa Medan)

Monday, February 16, 2009

Usia

Usia

keluarga-sungayang-rev

Aku boleh tergeer-geer ketika ditanya seorang Ibu-ibu baru-baru ini: “Mau kemana dik? mau camping ya? kuliah dimana?” waktu melihat aku bawa ransel, nunggu teman mau bareng ke lapangan di terminal Pinang Baris.

Hihi aku senyum- senyum aja, kegeeran dikira masih kuliah, soalnya sudah jarang yang menyangka begitu, kalau disangka belum menikah cukup sering sih. Mungkin dia pikir perawan tuwir nih orang. Waktu di Aceh sebelum tsunami cukup sering kalau naik Bus Kampus ditanyain kuliah dimana?

Juga pengalaman yang bikin termehek-mehek (ikutan tipi), ditaksir, eh ditanya-tanyain apa bisa pdkt ke temanku waktu ke lapangan. 3 orang lagi. Ya ampyuun….Apa gak liat ukuranku aja udah menyaingi piaraan.

Aku bisa saja jadi gede rasa, tapi suer, akhir-akhir ini malah sering ingat bahwa aku itu sudah tuwex emak-emak, anak 3, satu sudah remaja malah, harus tahu diri, berubah menjadi bijaksana. *Ah, mungkinkah?* Yah walaupun, gak mau ngaku tua sih, seringnya merasa masih 20-an gitu loh Ih gak teu diri bangets yah.

Kata sohibku usia hanyalah angka, namun seiring berjalannya waktu sungguh usia membuatku berpikir akan banyak hal, terutama sekarang ketika si anak bujang sudah menjulang tinggi jauh melebihiku (ssst…sebenarnya karena mamanya pendek sih). Ada banyak pertanyaan muncul, misal:

Masihkah pantas aku menjawab, “ah…aku gak tahu banyak soal Islam”, atau tentang adat Minang Kabau tercinta, misalnya, jika ditanya. Berapa waktu yang telah lewat yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat belajar, agamamu sendiri, adat negeri leluhurmu sendiri?

Apakah yang kulakukan selama ini sudah bermanfaat, apakah aku sudah bisa membuat orang-orang yang aku cintai bahagia, atau hanya aku saja yang dibahagiakan mereka?

Sejuta pertanyaan melekat di benakku. Belum lagi kegilaan untuk belajar banyak hal begitu menggebu saat ini. Rasanya ingin belajar semua yang menarik minatku (bahkan yg sebelumnya tak menarik seperti masak!), sementara kesibukan membuatku gak mungkin melakukan semuanya. Jadi ingat kayanya Dian pernah juga menulis tentang hal ini. Semakin tua semakin jadi minat belajarnya. Dan my love juga begitu, tambah tua tambah ingin belajar banyak hal, yang membuat kita kadang hanyut pada diskusi yang berapi-api, bersemangat maksudnya. Soalnya aku, semakin belajar semakin merasa bodoh!?

Ada satu hal yang aku ingat tentang umur ini. Sewaktu mau ikut rafting di Sungai Alas dulu (masih punya anak 1), temanku sempat menggoda: “Napa Kak? Kok ragu, gak berani ya?”

“Kalau ikut kata hati saja, berani aja sih friend, kataku. Cuma sejak punya anak, jujur aku jadi pengecut. Kamu tahu, aku bukan lagi remaja yang hanya mengikuti gejolak darahmuda, atau yang masih mencari jati diri, sekarang aku emak-emak, yang kalau mau melakukan sesuatu harus mikir panjang dulu. Aku tak perlu membuktikan apapun dengan sok-sokan berarung jeram di arus deras, lalu mati. “

Namun akhirnya aku ikut juga sih, tak bisa menolak godaan adrenalin hehe. Yang penting tidak takabur.

Sewaktu remaja, jangankan takut, terpikirpun tidak pada bahaya. Dulu aku sering berperahu ke tengah danau, atau laut, padahal gak bisa berenang. Atau ikut teman-teman kebut-kebutan, tak pernah terpikir bahayanya. Mungkin begitu juga yang dialami remajaku ya, si Ofai itu. Sekarang kena “karma” nya deh :D Sering cemas mikirin dia.

Dan kini aku terpaku pada satu hal: seharusnya semakin tua kita semakin bijak. Mudah-mudahan aku bisa ya…walau perlahan.

RuangBiru, 12 Februari 2009


Foto: keluargaku tercinta, jadul :)

Ditulis dalam Soliloqui | & Komentar

Monday, February 02, 2009

Senyum kemarin

Senyum kemarin

ke-camp

Mama iseng & ekor

“Melihat-lihat gambar gajah yang difoto dari belakang, Naysa (Cica) bilang:

“Ma, gajah nggak punya pantat ya, tapi ekor. Kalo Cica gak punya ekor, mama juga kan?”

“Pantat gajah ada Ca, ini, ” sambil nunjuk gambar gajahnya, “ekor juga.”

“Mama gak punya ekor Ca, tapi Bang Uqan ada tuh.”

“Bang Uqaaaan! liat dong ekornya?” Naysa pergi untuk melihat dimana ekor Bang Uqan.

“Halah Mama, ngajarin anak yang bener ya!,” dipelototin Papa.

Aku emang suka banget ngisengin anak-anak, biasanyanya sih untuk merangsang pikirannya, lalu setelah itu baru kuberitahu apa yang aku maksud :D

Kusikat kau

Anakku Uqan hobi banget nyanyi, tapi kadang-kadang liriknya rada aneh dan lucu. Salah satunya kemarin:

“…Kau hancurkan aku dengan sikat…muuuu….

…Cinta ini membunuhku…” Bang Uqan dengan suaranya yang serak, seksi sih menurutku :) )

“Yaa ampyuun Bang Uqaaaan, bikin marah D. Massive aja nih anak, hehe…sikap Qan, bukan sikat, sikat gigi kaleee,” kataku.

“Sikap itu apa artinya Ma?” mulai deh kotbah Mama.

*Salah siapa ya anak-anak jadi suka nyanyiin lagu orang dewasa?* Yang pasti untuk Uqan, salah Mama-Papanya lah ya..

Anjing biru

Mendengar salak anjing di gang sebelah:

“Suara apa tuh Ca?” tanyaku.

“Anjing Ma, guk guk, guk,” Nay menirukan suaranya.

“Cica pernah ketemu anjing itu gak?”

“Pernah Ma, waktu kemarin jalan-jalan naik sepeda sama Papa.”

“O ya? anjingnya cantik? berapa ekor? suaranya gede tuh!”

“Cantik Ma, warnanya biru, dua Ma!”

“Biru?” kaya langit itu?” Mama sambil nunjuk langit sore yang kebetulan biru cerah.

“Iya, Ma, anjingnya senyum sama Cica, kaya gini,” Cica senyum tanpa kelihatan giginya. Lucu banget.

Lalu dia melanjutkan cerita dengan lebih heboh, menuangkan khayalan bocahnya, anjingnya bahkan bisa menari segala.

Belajar dari anak pertama dan kedua, kudasari bahwa mendidik anak tak butuh waktu khusus, sejalan saja dengan aktivitas yang kita lakukan, kalau bisa libatkan dia dalam kegiatan kita (yang memungkinkan loh, bukan kegiatan “private” dengan ayahnya hehe), itulah waktunya belajar. Apalagi bagi orangtua yang sangat sibuk, kek Mama Cica yang sok aktipis itu harus pandai memanfaatkan waktu bersama.

Anakku Ufi dulu bahkan nggak sadar waktu kuajari membaca, usia 3 tahun sudah lancar, tapi gak dipaksa sih, sambil main-main saja. Berhitungpun begitu, kadang kalau lagi masak dia mau ikutan bantu, aku suruh menghitung buah, sayur, dsb. Tapi waktu itu aku berhenti kerja, jadi full time mother…hiks..hiks…sekarang aku Ibu yang payah, sering kerja diluar rumah.